JANGAN SALAH BACAAN..!! INILAH BACAAN YANG DIANJURKAN KEPADA ORANG YANG AKAN MENINGGAL MENURUT ISLAM


JANGAN SALAH BACAAN..!! INILAH BACAAN YANG DIANJURKAN KEPADA ORANG YANG AKAN MENINGGAL MENURUT ISLAM
JANGAN SALAH BACAAN..!! INILAH BACAAN YANG DIANJURKAN KEPADA ORANG YANG AKAN MENINGGAL MENURUT ISLAM

JANGAN SALAH BACAAN..!! INILAH BACAAN YANG DIANJURKAN KEPADA ORANG YANG AKAN MENINGGAL MENURUT ISLAM

fiqihonline.com - JANGAN SALAH BACAAN..!! INILAH BACAAN YANG DIANJURKAN KEPADA ORANG YANG AKAN MENINGGAL MENURUT ISLAM - Menjelang ajal, seorang muslim berada pada fase yang sangat menentukan dalam kehidupannya. Pada saat-saat kritis tersebut, Islam memberikan tuntunan yang jelas mengenai bacaan yang dianjurkan kepada orang yang akan meninggal, agar akhir hidupnya ditutup dengan kebaikan dan ketenangan. Namun sayangnya, di tengah masyarakat masih banyak terjadi kekeliruan dalam praktik, baik karena kurangnya pemahaman maupun karena mengikuti kebiasaan yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat.

Tidak sedikit orang yang membacakan berbagai bacaan tertentu kepada orang yang sedang sakaratul maut tanpa mengetahui apakah bacaan tersebut benar-benar dianjurkan oleh Rasulullah SAW. atau tidak. Padahal, kesalahan dalam bacaan pada kondisi genting seperti ini dapat menghilangkan keutamaan yang seharusnya diperoleh, bahkan berpotensi menyelisihi tuntunan sunnah.

Oleh karena itu, artikel ini disusun untuk menjelaskan secara jelas dan terarah mengenai bacaan yang dianjurkan kepada orang yang akan meninggal menurut Islam, berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis shahih, serta penjelasan para ulama. Pembahasan difokuskan pada bacaan yang benar-benar memiliki landasan syar‘i, sekaligus meluruskan bacaan-bacaan yang sering diamalkan namun tidak didukung oleh dalil yang kuat.

Dengan adanya pembahasan ini, diharapkan kaum muslimin dapat memahami tuntunan Islam secara benar dalam mendampingi orang yang sedang menghadapi ajal, sehingga dapat membantu mereka menutup kehidupan dengan kalimat tauhid dan husnul khatimah. Semoga artikel ini bermanfaat sebagai rujukan yang ilmiah, praktis, dan sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari dalil-dalil yang shahih.

وَعَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ وَاَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَا : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ ) رواه المسلم, والاربعة.

Dari Abu Said dan Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tuntunlah orang yang hampir mati di antara kamu dengan Laa ilaaha illallah." Riwayat Muslim dan Imam Empat.

Disunnahkan untuk menuntun orang yang akan meninggal dunia dengan mendiktekan ucapan Laa Ilaaha Illallaah. Perbuatan itu disebut dengan talqin. Talqin yang disyariatkan adalah yang dibacakan pada orang yang masih hidup dan akan meninggal dengan harapan agar akhir ucapannya adalah kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

مَنْ كَانَ اَخِرُ كَلَامِهِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah Laa Ilaaha Illallaah, maka ia masuk Jannah (surga)(H.R Abu Dawud dan al-Hakim)

Proses menuntun orang yang akan meninggal tersebut hendaknya dilakukan secara lemah lembut dan tidak menyulitkan. Jangan menyesakkan dia dengan menuntut secara berurutan dan terus menerus. Hal itu bisa membuatnya tertekan dan menyulitkan. Jika ketika dituntunkan orangnya sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka biarkanlah. Jangan kita tuntun lagi. Kalau ia kemudian mengucapkan hal lain, tuntun kembali dengan ucapan Laa Ilaaha Illallaah dengan harapan itu adalah ucapan terakhirnya.

Tambahan Faidah: Jika tidak menyulitkan, sebaiknya menghadapkan orang yang akan meninggal dunia ke arah kiblat. Bisa dengan berbaring pada sisi kanan dengan kepala menghadap kiblat, atau telentang dengan posisi kepala agak ditinggikan dan kaki di arah kiblat. Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa hal itu sunnah, dan hadits-hadits yang terkait dengan itu bisa sampai pada derajat hasan (saling menguatkan dengan berbagai jalur periwayatan yang ada). Namun jika hal itu menyulitkan, tidak mengapa menghadap ke arah mana saja.

وَعَنْ مَعْقِلٍ ابْنِ يَسَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِسِلَّمَ قَالَ : ( اِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس ). رواه ابوا داود والنسائي, وصححه ابن حبان.

 

Dari Ma'qil bin Yasar radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu." Riwayat Abu Dawud dan anNasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Syaikh al-Albany dalam Dhaiful Jami’, ad Daraquthny menyatakan: hadits ini sanadnya lemah ( Dhoif ), matannya majhul (tidak dikenal) dan dalam masalah membaca Yasin untuk mayit ini tidak ada hadits yang shahih (atTalkhiisul Khabir (2/245))

Para Ulama’ berbeda pendapat tentang membaca surat Yasin bagi yang akan meninggal dunia. Pendapat pertama : disyariatkan untuk membacakan Yasin bagi yang akan meninggal dunia. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ahmad, Ibnu Qudamah, Ibnu Hibban, Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

Menurut mereka makna ‘mautaakum’ dalam hadits ini adalah orang yang akan meninggal bukan orang yang sudah meninggal, sebagaimana penjelasan dari Ibnu Hibban yang meriwayatkan hadits tersebut dengan menukil penjelasan Abu Hatim (Shahih Ibnu Hibban no hadits 3002) Hadits pada jalur di atas adalah lemah, namun terdapat jalur lain yang dianggap bisa menguatkan, di antaranya:

عَنْ صَفْوَانَ قَالَ : حَدَّثَنِيْ اْلمَشْيَخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بنَ اْلحَارِثِ الثَّمَالِيَّ صَحَابِيْ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ, فَقَالَ : هَلْ مِنْكُمْ اَحَدٌ يَقْرَاُ يس ؟ قَالَ : فَقَرَاَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُوْنِيُّ, فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ. قَالَ : فَكَانَ اْلمَشْيَخَةُ يَقُوْلُوْنَ : اِذَا قُرِاَتْ عِنْدَ اْلمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا. قَالَ صَفْوَانُ : وَقَرَاَهَا عِيْسَى بْنُ اْلمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ

Dari Shofwan ia berkata: telah mengabarkan kepadaku orang-orang yang sudah tua bahwasanya mereka menghadiri Ghudhaif bin al-Haarits ats-Tsumaaly –seorang Sahabat Nabi ketika parah sakitnya. Ia berkata: Apakah ada seseorang di antara kalian yang bisa membaca Yasin? Kemudian Sholih bin Syuraih as Sakuuny membacakannya. Ketika sampai 40-an ayat, ia meninggal. Shofwan berkata: para orang tua itu berkata: jika dibacakan Yasin pada orang yang akan meninggal dunia, akan diringankan baginya. Isa bin al-Mu’tamir membacakannya di sisi Ibnu Ma’bad (riwayat Ahmad, dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa sanadnya hasan dalam Ishoobah(5/324)).

Al Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Membaca Yasin bagi orang yang sudah meninggal adalah bid’ah. Namun, disukai membacakan Yasin untuk orang yang akan meninggal dunia (al-Fataawa al-Kubro (5/363)). Pendapat yang kedua: Tidak disyariatkan membaca Yasin atau surat apapun pada orang yang akan meninggal dunia. Hal yang disyariatkan dalam kondisi itu hanyalah men talqin (menuntun/ mendiktekan) bacaan Laa Ilaaha Illallaah.

Ulama’ yang berpendapat demikian menganggap hadits-hadits tentang pembacaan Yaasin tidak sampai pada derajat hasan (tidak bisa dijadikan landasan/ hujjah). Pendapat ini di antaranya dinyatakan oleh: ad-Daaraquthny, Syaikh Bin Baz, Syaikh al-Albany, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.

Meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa membacakan Yaasiin bagi orang yang sedang sakaratul maut atau orang yang sudah meninggal adalah hadits dhoif ( lemah sanadnya ), atau ada juga yang berpendapat bahwa membacakan Yaasiin bagi orang yang sudah meninggal adalah bi’ah ( suatu ajaran yang tidak di ajarkan langsung oleh Rosulullah SAW. atau istilah lainnya tidak ada dari Rosulnya.

Masyarakat Indonesia justru menjadikan pembacaan surat Yaasiin bagi orang yang sedang sakaratul maut atau orang yang sudah meninggal adalah sebuah tradisi yang senantiasa terus di lestarikan. Mereka mengikuti terhadap pendapat Imam Nawawi dan mayoritas ulama ahlu sunnah wal jamaah atau mayoritas ulama Syafiiyah yang mana beliau menyatakan bahwa sunnah hukumnya membacakan surat Yaasiin bagi orang yang sedang sakaratul maut ataupun sudah meninggal.

Kemudian selain menganjuran membacakan surat Yaasiin berdasarkan sunnah Nabi, Imam Nawawi pun menganjurkan untuk berdo’a setelah membacakan surat Yaasiin tersebut. Jika orang yang di do’akan telah meninggal dunia, maka amal atau berkah dari do’a tersebut akan sampai kepada yang di do’akannya ( ahli kubur ).

Jadi, ketika seorang muslim ketika mendapati saudara muslim lainnya sedang mengalami sakaratul maut, maka mereka dianjurkan untuk membacakan :

1.     Membacakan kalimat tauhid ( Talqin )

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ

Talqin dilakukan dengan lembut, tidak memaksa, cukup dengan mengucapkannya di dekat orang yang sedang sakaratul maut agar ia dapat menirukan atau mendengarnya.

Manfaat talqin:

  1. Menguatkan iman di akhir hayat
  2. Menjaga kesadaran tauhid
  3. Menjadi sebab husnul khatimah

2.     Membacakan surat Yaasiin

Meskipun terdapat perbedaan pendapat terkait kekuatan haditsnya, banyak ulama fiqih membolehkannya karena tujuan utamanya adalah menenangkan hati dan mempermudah keluarnya ruh.

3.     Membacakan do’a agar dimudahkan dalam sakaratul maut

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْهِ فِي سَكَرَاتِ اْلمَوْتِ

“Ya Allah mudahkanlah baginya sakaratul maut”

4.     Membacakan dzikir dan istighfar

Dzikir ringan seperti:

  • Subhanallah
  • Alhamdulillah
  • Allahu Akbar
  • Astaghfirullah
Bacaan dzikir ini berfungsi menciptakan suasana tenang, penuh keimanan, dan menghindarkan orang yang akan meninggal dari bisikan yang mengganggu.

5.     Hal yang perlu diperhatikan saat membacakan

Agar bacaan benar-benar bermanfaat, perhatikan adab berikut:

  • Tidak menangis berlebihan atau berteriak
  • Tidak memaksa orang yang sakaratul maut untuk berbicara
  • Menjaga suasana tenang dan khusyuk
  • Menghadapkan wajahnya ke arah kiblat jika memungkinkan

Semua bacaan tersebut bertujuan untuk menguatkan iman, menenangkan hati, dan memohon kemudahan saat sakaratul maut.