Larangan Mengharap Kematian dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hikmahnya

Larangan Mengharap Kematian dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hikmahnya
Larangan Mengharap Kematian dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hikmahnya

Larangan Mengharap Kematian dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hikmahnya

fiqihonline.com  - Larangan Mengharap Kematian dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hikmahnya -  Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Tuhan seluruh alam, yang dengan rahmat dan kasih sayang-Nya senantiasa melimpahkan kehidupan, harapan, serta kesempatan bagi hamba-hamba-Nya untuk memperbaiki diri. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Dalam perjalanan hidup, manusia tidak terlepas dari berbagai ujian dan cobaan. Kesedihan, sakit, tekanan hidup, dan musibah sering kali membuat hati merasa sempit dan lelah. Tidak jarang, dalam kondisi seperti ini muncul keinginan untuk segera mengakhiri hidup atau berharap datangnya kematian. Padahal, Islam sebagai agama rahmat dengan tegas melarang sikap mengharap kematian, karena bertentangan dengan nilai kesabaran, harapan, dan husnuzan kepada Allah.

Pembahasan “Larangan Mengharap Kematian” ini disusun untuk memberikan pemahaman yang benar kepada kaum Muslimin, bahwa kehidupan adalah amanah besar dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Selama nyawa masih dikandung badan, pintu taubat, amal shalih, dan perbaikan diri masih terbuka lebar. Islam tidak mengajarkan pelarian dari masalah, melainkan mengajarkan kekuatan iman dalam menghadapi ujian dengan sabar dan tawakal.

Melalui uraian dalil Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, serta penjelasan para ulama, diharapkan tulisan ini dapat meluruskan pemahaman yang keliru, menguatkan hati yang sedang diuji, serta menumbuhkan kembali semangat hidup dalam ketaatan kepada Allah. Mengingat kematian adalah ibadah, namun mengharap kematian karena keputusasaan adalah sikap yang dilarang dalam syariat Islam.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat, menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca, serta menjadi wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Kami menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki keterbatasan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan ke depan.

Dalam perjalanan hidup, manusia tidak pernah lepas dari ujian. tekanan ekonomi, sakit berkepanjangan, konflik keluarga, hingga beban mental sering kali membuat seseorang merasa letih dan kehilangan harapan. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang bahkan berangan-angan agar segera meninggal dunia, menganggap kematian sebagai jalan keluar dari penderitaan, tapi justru tindakan tersebut dapat meanmbah penderitaan di Akhirat.

Namun, Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Aalamiin melarang sikap mengharap kematian. Islam mengajarkan kesabaran, harapan, dan tawakal, serta melarang seorang Muslim meminta kematian sebelum waktunya.

Semua makhluk hidup, khususnya manusia sudah mempunyai batasan usianya masing-masing. Ada yang diberikan usia atau umur yang panjang sampai dengan ratusan tahun, dan ada juga yang baru lahir tapi sudah meninggal.

Jadi, tugas kita sekarang adalah fokus ibadah kepada-Nya dengan ibadah sebaik-baiknya. Perkara usia atau umur itu bukan urusan kita sebagai manusia, tapi kita berdo’a saja semoga kita diberikan umur panjang disertai kesehatan, untuk bisa beribadah dengan maksimal, dan menjadikan kita Husnul Khatimah.

Larangan Mengharap Kematian dalam Islam

Pengertian Mengharap Kematian Menurut Syariat

Mengharap kematian adalah keinginan hati atau ucapan lisan agar ajal segera datang, baik karena musibah duniawi, penderitaan, atau kesedihan yang mendalam.

Para ulama membedakan antara:

  • Mengingat kematian (dzikrul maut) → dianjurkan
  • Mengharap kematian (tamanni al-maut) → dilarang
  • Mengingat kematian → ibadah dan motivasi taubat
  • Mengharap kematian → sikap yang dilarang syariat
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله menjelaskan bahwa larangan ini berlaku apabila sebabnya adalah kesulitan dunia, bukan karena takut terjerumus dalam fitnah agama.

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ للهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لَا يَتَمَنَّيَنَّ اَحَدُكُمُ اْلمَوْتَ لِضُرٍّ يَنْزِلُ بِهِ فَاِنْ كَانَ لَابُدَّ مُتَمَنَّيًا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ اَحْيِنِيْ مَاكَانَتِ اْلحَيَاتُ خَيْرًالِيْ وَتَوَفَّنِيْ اِذَاكَانَتِ اْلوَفَاةُ خَيْرًا لِيْ ) مُتَفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menginginkan mati karena kesusahan yang menimpanya, bila ia benar benar menginginkannya hendaknya ia berdoa: Ya Allah hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jika sekiranya itu lebih baik bagiku." Muttafaq Alaihi.

Makna hadits:

  • Larangan bersifat tegas
  • Musibah dunia bukan alasan untuk berharap mati
  • Islam mengajarkan adab berdoa, bukan pemaksaan kehendak

Adab do’a ini:

  • Tidak mendahului takdir Allah
  • Menunjukkan tawakal
  • Mengandung hikmah dan kerendahan hati

Sikap Islami Saat Hidup Terasa Sangat Berat

Islam tidak menutup mata terhadap penderitaan, namun mengarahkannya dengan benar:

  • Memperbanyak doa dan dzikir
  • Menangis di hadapan Allah, bukan putus asa
  • Mencari solusi dan pertolongan
  • Mengingat pahala sabar tanpa batas
  • Mengingat kematian untuk memperbaiki hidup, bukan mengakhirinya

Seseorang muslim tidaklah boleh mengharapkan kematian karena kesempitan hidup di dunia yang ia alami. Karena bagi seorang mukmin, semakin panjang usianya, semakin bertambah kebaikan baginya. Kalaupun ia tergelincir pada dosa, bertambahnya usia adalah kesempatan untuk memperbanyak taubat.

وَلَايَتَمَنَّيَنَّ اَحَدُكُمُ اْلمَوْتَ اِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ اَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَاِمَّا مُسِيْئًا فَلَعَلَّهُ اَنْ يَسْتَعْتِبَ

Dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian. Bisa jadi ia adalah orang yang baik, sehingga bisa diharapkan bertambah kebaikannya. Kalau ia orang yang tidak baik, mungkin dia mengharapkan ridha Allah (dengan bertaubat).(H.R alBukhari)

Larangan mengharap kematian dalam Islam adalah bentuk penjagaan terhadap iman, harapan, dan nilai kehidupan manusia. Selama Allah masih memberi napas, berarti Allah masih memberi kesempatan. Kesulitan hidup bukan tanda kebencian Allah, melainkan jalan menuju penghapusan dosa dan kenaikan derajat.

لَاَيزِيْدُ اْلمُؤْمِنَ عُمْرُهُ اِلَّا خَيْرًا

Tidaklah menambah usia seorang mukmin kecuali kebaikan (H.R Muslim)

Umur panjang memberi kesempatan:

  • Bertaubat
  • Memperbaiki shalat
  • Menambah amal jariyah
Seharusnya, seseorang yang ditimpa musibah, bersikap sabar karena Allah dan mengharapkan pahala yang berlipat dari Allah. Jika seseorang tidak kuat dengan penderitaan yang dialaminya (seperti misalnya sakit yang amat sangat), Nabi memperbolehkan untuk berdoa dengan ucapan: Ya Allah hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jika sekiranya itu lebih baik bagiku.

Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa larangan mengharapkan kematian itu hanya  berlaku jika terjadi fitnah duniawi. Sedangkan jika terjadi fitnah Addiin yang membahayakan keselamatan Addiin-nya, maka seseorang boleh mengharapkan kematian.

Dalil mereka di antaranya adalah:

1.     Lafadz hadits riwayat Ibnu Hibban menjelaskan bahwa larangan itu hanya untuk kesempitan dalam urusan duniawi:

لَا يَتَمَنَّى اَحَدُكُمُ اْلمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فِي الدُّنْيَا

Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena kesempitan yang dialami dalam urusan dunia (H.R Ibnu Hibban no 2966)

2.     Hadits Abu Hurairah riwayat al-Bukhari dan Muslim:

لَاتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِالرَّجُلِ فَيَقُوْلُ يَالَيْتَنِيْ مَكانَهُ

Tidaklah tegak hari kiamat hingga seorang laki-laki lewat di kuburan laki-laki lain kemudian ia berkata: Duhai seandainya aku di posisi dia (meninggal dan dikuburkan)(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Batthol menjelaskan bahwa keinginan seseorang dalam hadits itu agar ia meninggal dan dikuburkan seperti orang yang ada dalam kubur tersebut adalah karena dahsyatnya fitnah Dien yang melanda (Syarh Shahih al-Bukhari libni Baththol (10/58))

3.     Salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi dalam hadits Muadz bin Jabal yang panjang, salah satu lafadznya:

وَاِذَا اَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةٌ فَاقْبِضْنِيْ اِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

Dan jika Engkau (Ya Allah) menginginkan terjadinya fitnah (ujian) terhadap hamba hambaMu, maka wafatkanlah aku menghadapMu dalam keadaan tidak terfitnah (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albany)

Dalam al-Qur’an, kisah Maryam yang mengharapkan kematian, dengan ucapan:

يَالَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Duhai seandainya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali (Q.S Maryam:23)

Ayat ini ditafsirkan mengharapkan bahwa Maryam kematian karena mengkhawatirkan fitnah Addiin pada dirinya dengan sebab peristiwa yang dialaminya (lihat Taudhiihul Ahkaam min Buluughil Maram karya Abdullah bin Abdirrahman al-Bassam juz 2 halaman 369-370). 

 Bagaimanapun, seorang muslim tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, karena putus asa dari rahmat Allah adalah sifat orang-orang kafir.

وَلَاتَيْئَسُوْا مِنْ رَوْحِ اللهِ اِنَّهُ لَايَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ اِلَّا اْلقَوْمُ اْلكَافِرُوْنَ

Dan janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang putus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir (Q.S Yusuf:87) 

  Mengharap kematian karena beban hidup termasuk bentuk putus asa, sedangkan putus asa adalah dosa besar karena bertentangan dengan sifat rahmat Allah yang Maha Luas.

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلّ َشِيْئٍ

Dan Rahmatku meliputi segala sesuatu ( Q.S.Al’Arof:156 ).

Tidak boleh juga mengakhiri kehidupan dengan bunuh diri, karena hal itu adalah dosa besar. Seseorang yang bunuh diri, akan diadzab di akhirat dengan cara dan alat yang digunakan dalam bunuh diri di dunia.

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْئٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, akan diadzab dengan sesuatu itu pada hari kiamat (H.R alBukhari no 5587)

Janganlah bunuh diri, karena sesungguhnya Allah Sang Pencipta kita masih menyayangi kita.

وَلَا تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Janganlah membunuh diri kalian, karena sesungguhnya Allah menyayangi kalian (Q.S anNisaa’:29).

Bunuh diri bukanlah sebuah solusi untuk menghindari setiap permasalahan yang di alami, melainkan menambah permasalahan yang baru kelak setelah meninggal.  


Terus kunjungi artikel ini untuk menambah wawasan setiap harinya..!!