![]() |
| Dahsyatnya Mengingat Kematian: Rahasia Hidup Lebih Produktif dan Tenteram |
Dahsyatnya Mengingat Kematian: Rahasia Hidup Lebih Produktif dan Tenteram
fiqihonline - Dahsyatnya Mengingat Kematian: Rahasia Hidup Lebih Produktif dan Tenteram - Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, tulisan berjudul “Dahsyatnya Mengingat Kematian: Rahasia Hidup Lebih Produktif dan Tenteram” ini dapat tersusun sebagai bahan renungan sekaligus panduan spiritual bagi pembaca. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa makna, hingga lupa bahwa mengingat kematian bukan sekadar ajaran agama, tetapi kunci untuk menghadirkan kesadaran diri, ketenangan batin, dan produktivitas yang lebih baik.
Mengingat kematian merupakan praktik yang sangat dianjurkan dalam Islam karena mampu melembutkan hati, menumbuhkan rasa syukur, serta membantu seseorang fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kesadaran akan kematian justru menjadi pendorong kuat untuk menata hidup lebih produktif, memperbaiki diri, dan memanfaatkan waktu secara optimal. Dengan pemahaman yang benar, kematian bukan lagi momok menakutkan, tetapi pengingat yang mengarahkan kita pada nilai-nilai luhur, kedisiplinan, dan ketenteraman hidup.
Buku atau artikel ini disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami serta dilengkapi dengan berbagai insight, dalil, dan manfaat praktis tentang hikmah mengingat kematian. Harapannya, tulisan ini tidak hanya menjadi bahan bacaan biasa, tetapi juga menjadi sarana introspeksi yang memperkuat iman, memperbaiki perilaku, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Kami berharap kehadiran tulisan ini memberikan manfaat bagi siapa pun yang mencari ketenangan, motivasi hidup, dan pemahaman mendalam tentang pentingnya mengingat kematian. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan amal terbaik.
عَنْ
اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( اَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَازِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتِ ) رَوَاهُ
التِّرْمِذِي وَالنَّسَائِي وَصَحَّحَهُ اِبنُ حِبَّانَ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus
kenikmatan, yaitu : mati." Riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasa'i, dan dinilai
shahih oleh Ibnu Hibban. << dishahihkan Syaikh al Albany dalam Shahihul
Jami’>>
PENJELASAN: Mati adalah pemutus kenikmatan hidup di
dunia. Nabi memerintahkan untuk memperbanyak mengingatnya. Orang yang
senantiasa mengingat kematian, jika ia termasuk orang yang banyak hartanya,
maka akan menimbulkan perasaan zuhud dalam dirinya, tidak serakah, karena ia
merasa hartanya tidak akan dibawa mati. Jika ia adalah orang yang miskin, maka
ia akan menjadi orang yang qonaah (merasa cukup dengan apa yang ada). Dalam
lafadz hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban :
فَمَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطٌّ وَهُوَ فِي ضَيْقٍ اِلَّا وَسَعَهُ
عَلَيْهِ وَلَا ذَكَرَهُ وَهُوَ فِي سَعَةٍ اِلَّا ضَيِّقَهُ عَلَيْهِ
Tidaklah seorang
hamba (yang mengingat kematian) berada dalam kesempitan kecuali ia merasa
lapang, dan tidaklah ia berada dalam keadaan lapang, kecuali ia merasa sempit
(tidak terasa banyak harta yang dimilikinya di dunia fana ).
Seseorang yang
mengingat kematian, ia akan banyak beristighfar dan bertaubat serta
memperbanyak amal sholeh. Karena setiap orang yang meninggal
dunia, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah amal. Ia sudah berada di
tahapan pembalasan amal, bukan lagi kesempatan menambah amal.
Karena itu, orang yang terbunuh di dunia, nanti di
akhirat akan berkata kepada Allah sambil membawa pembunuhnya: Wahai Tuhanku,
dialah yang telah memutusku dari puasa dan sholatku.
يَقْعُدُ
اْلمَقْتُوْلُ بِالْجَادَّةِ فَاِذَا مَرَّ بِهِ اْلقَاتِلُ اَخَذَهُ فَقَالَ :
يَارَبِّ هَذَا قَطَعَ عَلَيَّ صَوْمِيْ وَصَلَاتِيْ قَالَ : فَيُعَذِّبُ
اْلقَاتِلُ وَاْلَامِرُبِهِ
Seseorang yang terbunuh akan duduk di tengah jalan.
Jika lewat sang pembunuhnya, ia akan memegangnya dan berkata (di hadapan
Allah): Wahai Tuhanku, orang ini yang telah memutus puasa dan sholatku. Maka
kemudian diadzablah sang pembunuh dan orang yang menyuruhnya (untuk melakukan
pembunuhan). (H.R At-Thobarony).
Seseorang yang
ingat pada kematian akan berusaha memperbanyak amal dan memperbanyak investasi
untuk kehidupan akhirat yang menyebabkan pahalanya terus mengalir
اِذَا
مَاتَ اْلِانْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ ( رواه المسلم )
Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalannya
kecuali 3 hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang
mendoakannya (H.R Muslim, Mukhtarul Hadits, hal.16).
فَلَا يَغْرِسُ اْلمُسْلِمُ غَرْسْا فَيَاْكُلَ مِنْهُ اِنْسَانٌ
وَلَا دَبَّةٌ وَلَا طَيْرٌ اِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةً اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ
Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman yang dimakan bagiannya oleh
manusia, hewan melata, atau burung kecuali 13 akan menjadi shodaqoh baginya
hingga hari kiamat (H.R Muslim no 2903).
سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ اَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِى قَبْرِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا اَوْ كَرَى نَهْرًا اَوْحَفَرَ بِئْرًا اَوْ غَرَسَ نَخْلًا اَوْ بَنَا مَسْجِدًا اَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا اَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ
وِزْرُهَا وَوِزْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقَصَّ مِنْ
اَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ
Dan Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam contoh yang buruk, maka ia
mendapat dosa dan dosa orang-orang yang mengerjakan setelahnya tanpa dikurangi
dari dosa mereka sedikitpun (H.R Muslim no 1691) Saat ini perkembangan
teknologi demikian pesat. Orang sangat mudah menyebar info,
ajakan, propaganda berupa tulisan pada berbagai media seperti blog, website,
majalah, buku, dan semisalnya. Ingatlah, jika ajakan anda adalah hal-hal
keburukan: kemaksiatan, kebid’ahan, atau bahkan kekufuran dan kesyirikan, anda sedang
menanam investasi yang merugikan anda sendiri. Tetap mengalir dosanya meski
anda sudah meninggal.
A.
Mengingat Kematian
Menurut Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah Jalan untuk Mensucikan Hati
Dalam tradisi Ahlussunnah
wal Jama’ah (Aswaja), mengingat kematian (tadzakkur al-maut) adalah bagian
penting dalam pendidikan hati (tazkiyatun nafs). Para ulama menyatakan bahwa
siapa yang sering mengingat kematian, ia akan hidup lebih jernih, lebih rendah
hati, dan lebih terarah menuju Allah.
1. Kematian dalam Pandangan Aswaja
Aswaja mengajarkan bahwa
kematian adalah:
- Perpindahan
dari dunia menuju alam akhirat.
- Awal
perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
- Momentum
berjumpa dengan Allah bagi hamba yang beriman.
2. Mengingat Kematian Melunakkan Hati
Imam
al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa mengingat kematian bukan
untuk menghilangkan kebahagiaan, melainkan untuk membersihkan hati dari
kelalaian.
Dengan mengingat
kematian, seorang Muslim akan:
- Menjauhi
sifat sombong dan merasa paling lemah.
- Lebih
cepat memaafkan dan tidak menyimpan dendam.
- Berhati-hati
dari maksiat.
- Terdorong
memperbanyak amal shaleh.
3. Kematian Sebagai Cermin Perbaikan Diri
Ulama Aswaja mengingatkan bahwa kematian adalah cermin yang tak pernah berdusta.Ketika seseorang merenungi kematian, ia akan bertanya pada dirinya:
- Sudahkah aku menjaga shalatku?
- Sudahkah aku memperbaiki akhlak kepada keluarga?
- Sudahkah aku menahan diri dari dosa yang tersembunyi?
- Sudahkah aku memberi manfaat untuk orang lain?
4. Kematian dalam Perspektif Tasawuf Aswaja
- Mengingat kematian melahirkan:Khauf (rasa takut kepada Allah yang menuntun pada kebaikan).
- Raja’ (harap akan rahmat-Nya).
- Zuhud (tidak terikat pada dunia, meskipun tetap berkarya).
Inilah jalan pertengahan
Aswaja: seimbang antara rasa takut dan harap.
5. Praktik Mengingat Kematian dalam Tradisi Aswaja
- Sering membaca surat Al-Mulk sebelum tidur.
- Mengunjungi makam untuk merenungkan akhir kehidupan.
- Mengikuti majelis ilmu yang membahas akhirat.
- Membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar diberi husnul khatimah.
6. Mengingat Kematian untuk Menghidupkan Syukur
- Lebih mensyukuri kesehatan.
- Menghargai waktu.
- Memperbaiki hubungan antarsesama.
- Menjaga amanah dan tanggung jawab.
